EFEKTIVITAS RUANG TERBUKA HIJAU DALAM MEREDUKSI EMISI GAS KARBON DI KOTA BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN

Elva Azzahra Puji Lestari

Abstract


Konsep Kota Hijau adalah konsep pembangunan kota berkelanjutan yang menyelaraskan lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia sebagai respon terhadap kerusakan lingkungan. Menurut Undangundang RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dinyatakan bahwa proporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada wilayah perkotaan paling sedikit 30% dari luas wilayah keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas RTH dalam mereduksi emisi gas karbon dioksida di Kota Banjarmasin. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu mengandalkan parameter NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) serta observasi lapangan berupa perhitungan emisi gas karbon dioksida dan wawancara instansi. Metode analisis data yang digunakan adalah berdasarkan hasil perhitungan emisi gas karbon dioksida kendaraan dan daya serap RTH yang menghasilkan arahan pengembangan RTH yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Lokasi penelitian meliputi RTH jalan pada kota Banjarmasin yaitu Kecamatan Banjarmasin Tengah dan Banjarmasin Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan ruang terbuka hijau di Kota Banjarmasin memiliki keterkaitan dengan penyerapan emisi gas karbon dioksida. Hal ini dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan ruang terbuka hijau belum efektif menyerap emisi gas CO2. Strategi pengembangan RTH Kota Banjarmasin difokuskan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas RTH sehingga dipandang sebagai salah satu upaya penanganan terhadap meningkatnya emisi gas rumah kaca yang paling implementatif dibandingkan cara lainnya.

Keywords


Ruang terbuka hijau; NDVI; emisi gas karbon dioksida; daya serap; pengembangan

Full Text:

PDF

References


Adiastari, R. (2010). Kajian Mengenai Kemampuan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam Menyerap Emisi Karbon di Kota Surabaya. Surabaya. Institut Teknologi Sepuluh November. Surabaya. 28 hlm.

Ernawi, I.S. (2012). Gerakan Kota Hijau: Merespon Perubahan Iklim dan Pelestarian Lingkungan. Bulletin Tata Ruang. (Januari-Pebruari 2012): 4-7

IPCC National Greenhouse Gas Inventories Programme. (2006). IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Volume 2 – Energy. Institute for Global Environmental Strategies (IGES). Japan.

Joga, N., Ismaun I. (2011). RTH 30%! Resolusi (Kota) Hijau. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa. 2016. Penyusunan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Berbasis Jasa Ekosistem Terkait Sektor Industri di Jawa Timur.

Purnomohadi, N. 2006. Ruang Terbuka Hijau Sebagai Unsur Utama Tata Ruang Kota. Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum.

Putri P, Zain AFM. 2010. Analisis Spasial dan Temporal Perubahan Luas Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung. Jurnal Lanskap Indonesia 2 (2): 115-121.

RI (Republik Indonesia). 2007. Undang-undang No 26 tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Jakarta (ID): Direktorat Jendral Penataan Ruang Menteri Pekerjaan Umum. Lembaran Negara RI Tahun 2007, No. 68. Sekretariat Negara. Jakarta.

Todaro MP, Smith S.C. 2006. Pembangunan Ekonomi. Terjemahan. Edisi kesembilan. Munandar, H (penterjemah). Jakarta (ID): Erlangga.

Y. Fujita, H. Matsumoto, H.C. Siong., “Assessment of CO2 emissions and resource sustainability for housing construction in Malaysia,” International Journal of Low-Carbon Technologies 2009, Vol. 4 (2009, Mar.) 16-26.




DOI: http://dx.doi.org/10.24895/SNG.2018.3-0.979

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Seminar Nasional Geomatika

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Prosiding Semnas Geomatika terindeks oleh:

 

Copyright of Badan Informasi Geospasial

Creative Commons License