PEMETAAN KONDISI TUTUPAN LAHAN DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) SEBAGAI TOLOK UKUR PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH Studi Kasus: Sub DAS Citarum yang ada di Kawasan Bandung Utara

Arif Nurrohman, Alin Adlina

Abstract


Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan antara sungai dengan anak-anak sungainya. DAS mempunyai fungsi untuk menampung, menyimpan dan mengalirkan air dari hulu hingga ke hilir. Sub DAS merupakan bagian wilayah kecil dari suatu DAS. Dewasa ini kondisi tutupan lahan di setiap wilayah administrasi Kabupaten / Kota mengalami degradasi, terutama untuk tutupan lahan hutan yang selalu mengalami penurunan luasan atau perubahan sebarannya yang tidak
sesuai. Selain itu kejadian banjir di beberapa wilayah perkotaan mengalami intensitas yang sering. Kawasan Bandung Utara (KBU) merupakan daerah dataran tinggi yang ada di wilayah Cekungan Bandung, KBU adalah salah satu hulu dari DAS Citarum yang memiliki peranan penting terhadap keberlanjutan pelestarian
lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran kondisi tutupan lahan Sub DAS Citarum yang ada di KBU. Metodologi yang dilaksanakan diantaranya adalah deliniasi batas Sub DAS Citarum yang ada di KBU, perhitungan luas tutupan lahan dan proporsi sebaran tiap Sub DAS, analisis perbandingan
tutupan lahan hutan dengan kawasan hutan, dan analisis banjir eksisting serta kondisi limpasan air. Terdapat sembilan sub DAS Citarum yang sudah terdeliniasi dengan kondisi tutupan lahannya yang saat ini kian memprihatinkan. Berdasarkan hasil anlisis, kondisi tutupan lahan di sembilan Sub DAS Citarum tersebut sebagian masih kurang dari 30% ketersediaan hutannya. Artinya ±70% dari area Sub DAS adalah berupa kawasan budidaya seperti permukiman, industri, semak belukar, lahan kosong, tegalan, kebun dan lain sebagainya. Salah satunya adalah Sub DAS Cidurian, terdapat tutupan hutan sebesar 949,07 ha dengan koefisien limpasan air ketika terjadi hujan tinggi sebesar 63%.

Keywords


sub daerah aliran sungai; tutupan lahan; rencana tata ruang wilayah; hutan; banjir

Full Text:

PDF

References


Amin Shaban, Mohamad Khawlie, Chadi Abdallah. (2006). Use of Remote Sensing and GIS to Determine Recharge Potential Zones. Hydrogeologi Journal. 14: 433-443. Lebanese National Council. Lebanon.

Asdak, Chay. (2010). Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wibowo, Mardi. (2006). Model Penentuan Kawasan Resapan Air Untuk Perencanaan Tata Ruang Berwawasan Lingkungan. Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Wibowo, Mardi. (2005). Kajian Atas Hasil-hasil Penelitian Kawasan Konservasi Daerah Resapan Air di Cekungan Bandung. Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Balai Besar Wilayah Sungai Citarum. (2011). Studi Pengendalian Banjir Komprehensif. Bandung: Balai Besar Wilayah Sungai Citarum.

RI (Republik Indonesia). (1999). Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Sekretariat Negara. Jakarta.

RI (Republik Indonesia). (2007). Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Sekretariat Negara. Jakarta.

RI (Republik Indonesia). (2012). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Sekretariat Negara. Jakarta.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat. (2010). Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 Tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat. Sekretariat Daerah. Bandung.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat. (2016). Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Pengendalian Kawasan Bandung Utara. Sekretariat Daerah. Bandung.




DOI: http://dx.doi.org/10.24895/SNG.2018.3-0.966

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Seminar Nasional Geomatika

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Prosiding Semnas Geomatika terindeks oleh:

 

Copyright of Badan Informasi Geospasial

Creative Commons License