ANALISIS SEBARAN KELAS KEMAMPUAN PENGGUNAAN LAHAN DI TAMAN NASIONAL BROMO-TENGGER-SEMERU

Beny Harjadi

Abstract


Kawasan hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN.BTS) ini berfungsi sebagai hutan lindung dan hutan produksi. Bentangan barat-timurnya sekitar 20-30 kilometer dan utara-selatannya sekitar 40 km ditetapkan sejak tahun 1982 seluas 50.273,30 ha. Kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir yang luasnya ±6.290 ha. Batas kaldera lautan pasir berupa dinding terjal, yang ketinggiannya antara 200-700 meter. Secara administratif TN.BTS masuk wilayah Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Malang, Propinsi Dati I Jawa Timur. Permasalahan yang terjadi yaitu penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya (Kelas KPL), atau ada upaya untuk mengeksploitasi lahan sehingga terjadi degradasi dan tingkat kesuburan lahan semakin menurun. Tujuan penelitian ini akan menganalisis distribusi kelas kemampuan lahan yang ideal di TN.BTS. Metode yang digunakan yaitu dengan menganalisis parameter yang menjadi faktor utama kelas KPL antara lain: ketinggian tempat, kemiringan lereng dan arah lereng. Masing-masing dibuat peta raster dari citra satelit Landsat TM dan citra radar SRTM (Shuttle Radar Topography Massion). Hasil yang diperoleh untuk ketinggian tempat lebih menonjol daerah berbukit (28.550 ha) untuk kemiringan lereng di dominasi lereng sangat curam (45-65%) seluas 10.683 ha dan untuk arah lereng didominasi lereng yang menghadap ke selatan (9.465 ha). Dari ketiga parameter tersebut diatas akhirnya didapatkan bahwa di TN.BTS di dominasi KPL VI yang diperuntukkan untuk Hutan Produksi seluas 17.313 ha dan yang paling sempit yaitu KPL III untuk tegal dan pekarangan seluas hanya 98 ha. Taman nasional sebagai cagar alam sesuai dengan kelas KPL nya maka sebaiknya lebih banyak diperuntukkan untuk kawasan hutan produksi sampai hutan lindung.
Kata kunci: degradasi lahan, kawasan hutan, KPL, taman nasional, wisata alam

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.