Analisis Harmonik Pasang Surut Laut Menggunakan Data Satelit Altimetri Jason-2 dan Data Stasiun Pasut (Studi Kasus: Perairan Pesisir Barat Lampung)

Romi Julianto, Zulfikar Adlan Nadzir, Kosasih Prijatna

Abstract


Pasang surut laut merupakan fenomena naik turunnya permukaan air laut yang utamanya disebabkan oleh gravitasi benda-benda langit, utamanya bulan dan matahari. Data pasang surut (pasut) masih sangat sedikit, khususnya di Pesisir Barat Lampung, dibuktikan dengan sedikitnya stasiun pasut. Dalam rangka melengkapi data pasut ini, digunakan pengamatan altimetri, dimana setiap titik lintasannya dapat ditinjau sebagai stasiun pasut. Satelit altimetri mengukur muka laut setiap 9,9156 hari, berbeda dengan pengamatan langsung, biasanya 12/24 jam. Besar periode pengamatan 9,9156 hari, ini menyebabkan data pengamatan altimetri mengalami alias-period. Oleh karena itu, dalam penelitian ini digunakan Jason-2 yang dilakukan dealiased untuk mendapatkan 6 konstanta pasut utama (K1, O1, P1, M2, N2 dan S2) di area Sumatera bagian barat, tepatnya di pass 77 dan pas 153. Metode pengolahan pasut adalah least square dengan bantuan program t_tide. Analisis terhadap dua pass, yaitu pass 77 dan 153 dengan cycle 001-327 tahun 2008-2017. Data validasi adalah Stasiun Pasut Seblat dan Krui.tahun 2016-2017. Hasil penelitian menunjukkan elevasi muka laut di tahun 2016-2017 rerata tertinggi di Seblat 0,520 m dan Krui 1,293 m tahun 2017, sedangkan terendah di Seblat 0,8601 m dan Krui 0,7226 m tahun 2016. Selisih amplitudo rerata konstanta pasut data altimetri terhadap data stasiun pasut di Seblat sebesar 0,122 m dan Krui sebesar 0,115 m. Dengan demikian, pengamatan pasang surut menggunakan altimetri dapat digunakan sebagai pelengkap data tide gauge dalam memodelkan pasang surut di Pesisir Barat Sumatera.

Keywords


analisis harmonik; Satelit Altimetri Jason 2; amplitudo

Full Text:

PDF

References


Ali, M.M., & Hadi, S. (1994). Pasang Surut Laut. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Atmodjo, W. (2000). Analisis Pasang Surut di Pantai Karti Jepara dengan Metode Kuadrat Terkecil. Universitas Diponegoro. Semarang.

AVISO. (2015). OSTM/Jason-2 Products Handbook. CNES, EUMETSAT, NOAA.

Chen, G., & Lui, H. (2000). The effect of temporal aliasing in satellite altimetry. Photogrammetric Engineering & Remote Sensing , 66(5), 639-644.

Hakim, L., & Anjasmara, I.M. (2016). Analisis Hubungan Perubahan Muka Air Laut dan Perubahan Volume Es di Kutub Selatan dengan Menggunakan Satelit Altimetri (Studi Kasus: Laut Selatan Pulau Jawa Tahun 2011-2014). Jurnal Teknik ITS, 5(2),A395-A400. https://doi.org/10.12962/j23373539.v5i2.17203.

Ongkosongo, O., & Suyarso. (1989). Pasang Surut. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. 257hlm.

Pawlowicz, R., Beardsley, B., & Lenzt, S. (2002). Classical tidal harmonic analysis including error estimates in Matlab using T_tide. Computer and Geosciences, 28(8), 929-937. https://doi.org/10.1016/S0098-3004(02)00013-4.

Seeber, G. (2003). Satellite Geodesy. 2nd Completely Revised and Extended Edition. Walter de Gruyter. Berlin. 589pp.

Sudjana. (2002). Metode Statistika. Trasito. Bandung. 508hlm.

Yuliastuty, I., Sambodho, K., & Suntoyo. (2011). Analisis pasang surut di Perairan Jawa Timur dengan menggunakan metode fourier transform. Jurusan Teknik Kelautan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 1-15.




DOI: http://dx.doi.org/10.24895/SNG.2020.0-0.1182

Article Metrics

Abstract view : 0 times
PDF - 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Seminar Nasional Geomatika

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Prosiding Semnas Geomatika terindeks oleh:

 

Copyright of Badan Informasi Geospasial

Creative Commons License