PENENTUAN LOKASI PENENGGELAMAN KAPAL ILLEGAL FISHING DI WILAYAH PERAIRAN LAUT INDONESIA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS Wilayah Studi: Perairan Kota Bitung, Sulawesi Utara

Falih Pangestu, Yackob Astor, Muhandis Sidqi

Abstract


Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas daratan Indonesia 1.922.570 km² dan luas perairannya 6.315.222 km². Potensi sumber daya alam dari laut di Indonesia sangat berlimpah terutama dalam sektor perikanan, menjadikan Indonesia sebagai negara terbesar kedua produksi perikanan tangkap. Implikasi dari kondisi ini adalah banyaknya illegal fishing di wilayah perairan Indonesia. Salah satunya di perairan laut Maluku yang berdekatan dengan Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2015 telah terjadi penenggelaman 19 kapal di wilayah tersebut yang menyebabkan terjadinya keluhan dari masyarakat sekitar yang juga memanfaatkan sumber daya laut. Berdasarkan studi literatur hingga saat ini belum ada kriteria khusus lokasi penenggelaman kapal di perairan Indonesia. Penelitian ini membangun kriteria penentuan lokasi penenggelaman kapal yang memiliki dampak minimal dan tidak mengganggu pemanfaatan ruang laut di sekitarnya. Kriteria dibangun menggunakan metode Analytical Hierarchy Process . Hasil penelitian diperoleh kriteria penenggelaman kapal di Perairan Kota Bitung yang dibangun menggunakan enam unsur utama, yakni: Alokasi Ruang (37,08 %), Jarak dari Garis Pantai (18,81 %), Ekosistem Laut (14,91 %), Kedalaman Laut (14,87 %), Arus Laut (9,53 %), dan Substrat Permukaan Dasar Laut (4,80 %). Kesesuaian lokasi penenggelaman kapal diklasifikasikan menjadi empat, yaitu: “Tidak Sesuai”, “Kurang Sesuai”, “Sesuai”, dan “Sangat Sesuai”. Lokasi penenggelaman kapal di Perairan Kota Bitung pada tahun 2015 hingga tahun 2017 berada pada wilayah “Tidak Sesuai”.

Keywords


penenggelaman kapal, illegal fishing , Ana lytical Hierarchy Process

Full Text:

PDF

References


Badan Informasi Geospasial. (2015).

Informasi Geospasial untuk Pembangunan Kemaritiman. Kuningan,

Jakarta. Barrett, M. (2011).

Potentially Polluting Shipwreck, Spatial Tools Analysis of WWIIS hip wreck. Nicholas School of the Environment, Duke University . Durham. Food and Agriculture Organization (FAO). (2014). The State of World FIsheries and Aquaculture Marine Capture Production: Major Producers . Halaman 9. Kementerian Kelautan dan Perikanan. (2015). Reportas e Kegiatan Penanganan Pelanggaran Tahun 2014 2015 . Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Marimin. (2004). Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk . PT Grasindo, Jakarta. Peraturan Gubernur Sulawesi Utara. (2017). Rencana Zonasi Wilayah Perisisr dan Pulau - pulau Kecil Sulawesi Utara Tahun 2017 - 2037 . Peraturan Daerah Nomor: 1 Tahun 2017. Gubernur Sulawesi Utara, Manado. Purnomo, S. (2017). Analisis Potensi Peruntukan Lahan Rumah Sakit Dinilai dari Aspek Fisik dan Kebutuhan Penduduk dengan Sistem Informasi Geografis di Kota Semarang . Jurnal Geode si Undip . Semarang. Septian, D. (2016). Kapal yang Ditenggelamkan Menteri Susi Cemari Laut ? . Liputan 6, Jakarta. Cited in https://www.liputan6.com/bisnis/read/2537590/kapal-yang-ditenggelamkan-menteri-susi-cemari-laut [19 April 2018] Sularso, A. (2012). Penegakan Hukum di ZEE Indonesia . Pelatihan SDM Bakormala. Cited in https://www.slideshare.net/ajisularso/penegakan-hukum-di-zee. [13 April 2018]. Statistik Perikanan. 2014. Kekayaan Ikan Tangkap Laut Indonesia. Cited in https://katadata.co.id/infografik/2016/04/15/kekayaan-ikan-tangkap-laut-indonesia. [14 April 2018].




DOI: http://dx.doi.org/10.24895/SNG.2018.3-0.1080

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Seminar Nasional Geomatika

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Prosiding Semnas Geomatika terindeks oleh:

 

Copyright of Badan Informasi Geospasial

Creative Commons License