ANALISIS SPEKTRAL CITRA SPOT 7 UNTUK IDENTIFIKASI KAWASAN MANGROVE DI PANTAI TIMUR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Nirmawana Simarmata, Fitralia Elyza, Rezalian Vatiady

Abstract


Konversi hutan manggrove merupakan sumber utama emisi CO dengan jumlah sebesar 1,7 ± 0,6 Pg karbon per tahun. Kegiatan konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak melepaskan cadangan karbon ke atmosfir dalam jumlah yang cukup berarti. Ekspansi usaha pertambakan udang di kawasan pesisir Provinsi Lampung semakin meluas dari tahun ke tahun yang berdampak serius pada kondisi hutan mangrove. Kebijakan pembukaan tambak baru telah mengubah bentang hutan mangrove dan akan menimbulkan kerugian sosial yang jauh lebih besar. Menanggapi permasalahan tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang mengikuti program Reduce Emission from Deforestation and Degradation atau REDD+ dalam melakukan inventarisasi karbon hutan. Indonesia memiliki potensi sumberdaya hutan mangrove yang sangat melimpah. Potensi hutan mangrove Indonesia cukup besar, Indonesia memiliki luas hutan mangrove terbesar di dunia. Salah satunya di Kabupaten Lampung Selatan merupakan kawasan dengan tutupan yang relatif luas di Provinsi Lampung. Karakteristik hutan mangrove dianalisis berdasarkan nilai spektral nya dengan menggunakan indeks vegetasi. Jenis data penginderaan jauh yang digunakan untuk penelitian ini adalah citra SPOT 7. Citra SPOT 7 dianalisis menggunakan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) sehingga diperoleh nilai kehijauan objek mangrove. Nilai indeks vegetasi pada kawasan penelitian mempunyai range antara 0.2 – 0.7. Nilai indeks vegetasi digunakan sebagai parameter untuk memetakan kawasan hutan mangrove di Kabupaten Lampung Selatan.

Keywords


mangrove, SPOT 7, indeks vegetasi, NDVI

Full Text:

PDF

References


Danoedoro, P. (2012). Pengantar Penginderaan Jauh Digital. Yogyakarta: Andi Offset.

Dharmawan, I. W. S. dan Siregar, C. H. (2008). Karbon tanah dan pendugaan karbon tegakan Avicennia marina (forsk) vierh. di Ciasem, Purwakarta. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 4(4): 317—328.

Donato, C. D., Kauffman, J., Murdiyarso, B., Kurnianto, S., Stidham, M dan Kanninen, M. (2011). Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics. Nature Geoscience. 4: 293—297.

Jensen, J. R. (2014). Remote Sensing of the Environment An Earth Resource Perspective, United States: Pearson Education Limited.

Krisnawati, H. Adinugroho, W.C. Imanuddin R. dan Hutabarat. S. (2014). Pendugaan Biomassa Hutan untuk Perhitungan Emisi CO2 di Kalimantan Tengah. Buku. Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor.

Krisnawati, H. (2010). REDD+ dan Forest Governance: Status Data Stok Karbon dalam Biomas Hutan di Indonesia. Buku. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor.

Kusmana, C. (2002). Pengelolaan Ekosistem Mangrove secara Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Jakarta: Lokakarya Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

Sadelie, A., et al, H. (2012). Kebijakan pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis perdagangan karbon. Jurnal Hutan dan Masyarakat. 6 (1): 1-11.

Simon, Hasanu. (2007). Metode Inventore Hutan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Walhi. (2010). Hutan Mangrove: Laju Kerusakan di Lampung Sulit diredam. http://www.walhi.or.id/in/ruang-media/walhi-dimedia/1048-hutan-mangrove-laju kerusakan-dilampung-sulit-diredam. (10/12/2010).




DOI: http://dx.doi.org/10.24895/SNG.2018.3-0.1046

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Seminar Nasional Geomatika

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Prosiding Semnas Geomatika terindeks oleh:

 

Copyright of Badan Informasi Geospasial

Creative Commons License